Jumat, 13 Juli 2012

Tidak Perlu Sekolah....?


Sekolah itu tidak penting…… ?

Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi…Bill Gates, Steve Jobbs dan Mark Zuckerberg yang dropout saja bisa jadi orang maha kaya…
Buat mereka yang masih menjadikan tiga orang itu sebagai patokan dan alasan untuk tidak bersekolah, saya tantang untuk tidak menyekolahkan anaknya sama sekali.



Baru-baru ini saya baca artikel tentang kekhawatiran di Amerika Serikat, dimana banyak mahasiswa yang memilih berhenti belajar demi berbisnis dan jadi kaya seperti Bill Gates. Alasannya? Ya percuma sekolah, yang drop out saja bisa jadi milyuner…

Saya pribadi sangat menyayangkan mereka yang berpikiran seperti ini. Memangnya kenapa kalo bersekolah? Percuma? Banyak yang bilang begitu…percuma dilanjutkan sekolah, tokh saat lulus nanti ilmunya tidak terpakai dan paling-paling Cuma jadi karyawan. Lebih baik jadi orang yang ‘street smart’, pintar dalam kehidupan yang sesungguhnya daripada Cuma pintar sebagai pelajar, jago bikin tugas dan paper tapi tidak bisa berbisnis atau jadi manajer yang baik.

Well…tidak semua orang diberkahi bakat dan keberuntungan seperti Bill Gates kan?

Sekolah, menurut saya, memang tidak bakal membuat anda jadi kaya raya, tapi juga tidak bakal membuat anda jadi orang sengsara. Untuk bisa sukses besar, tetap dibutuhkan banyak faktor; bakat, kerja keras, koneksi, jaringan dan sedikit keberuntungan. Banyak orang yang antipati terhadap sekolah karena dianggap mengungkung kreativitas, menyuburkan feodalisme, dan sebagainya lah.

Untuk soal sekolah ini, saya tetap berpegangan pada salah satu buku favorit saya ; The Outliers, karyanya Malcolm Gladwell. Menurut si Malcolm, untuk seseorang bisa mencapai sukses luar biasa, dia harus bisa menempatkan dirinya, baik sengaja maupun tidak, dalam serangkaian kondisi yang mendukung ia bisa berhasil. Salah satu contoh yang diambil dalam buku itu memang Bill Gates. Okelah ia tidak lulus kuliah, tapi sepanjang hidupnya ia selalu berada dalam situasi yang menguntungkan. Salah satunya saat ia SMP atau SMA, sekolahnya adalah satu dari sedikit sekolah yang mempunyai perangkat komputer yang lengkap dan canggih. Gates remaja sering mencuri waktu untuk begadang di laboratorium sekolah, belajar tentang coding, programming dan lain sebagainya. Saat teman-teman lain pacaran atau keluyuran, Gates lebih suka mendalami komputer yang ketika itu mungkin masih dianggap sesuatu yang terlalu nerdy, aneh dan tidak menarik. Hasilnya? Gates punya ilmu komputer yang beberapa langkah lebih maju dibanding teman-temannya. Kisah ini, tampaknya sering dilupakan saat orang menjadikan Gates sebagai panutan. Yang diingatnya Cuma satu : Gates, tidak menyelesaikan kuliah dan karenanya jadi kaya…

Orang seperti Gates itu, menurut saya adalah anomali, atau bahkan mitos. Sama halnya dengan Lionel Messi yang bertubuh kuntet tapi jago luar biasa atau Stevie Wonder yang buta tapi jago main piano… meskipun kita tidak suka, ya mau tidak mau harus diakui bahwa kita masih tinggal di dunia yang memiliki standar-standar baku untuk profesi ataupun kedudukan tertentu : Direktur harus lulusan perguruan tinggi, pemain basket harus tinggi, pemain bola harus kuat, dan pemain piano alangkah idealnya bila tidak buta…

Sekolah, sekali lagi, memang tidak menjamin kesuksesan atau kekayaan. Ia hanyalah sebuah cara, sebuah metode dari ribuan pilihan agar orang bisa mencapai cita-citanya. Perumpamaannya begini ; saat anda lapar datanglah ke dapur. Di dapur, sudah tersedia segala macam bahan baku untuk ‘mengobati’ lapar. Tinggal pilihan anda mau melakukan apa. Masak mie instan? Telor ceplok? Atau bikin Beef Wellington ala Gordon Ramsay yang maha enak itu? Semuanya bisa mengganjal perut. Kemauan dan kepintaran anda mengolah bahan di dapur yang akan menentukan kualitas ‘obat lapar’ anda.

Apakah Cuma dapur tempat menghilangkan lapar? Jelas tidak… kalau punya uang, anda bisa pergi ke rumah makan Padang. Kalau punya nenek yang pintar masak, anda tinggal pergi ke rumah nenek. Kalau anda nekad, anda bisa memalak jajanan milik anak-anak SD di dekat rumah… semuanya, sama-sama bisa menghilangkan lapar anda. Semuanya sama saja, tapi tetap…saat anda berada di rumah, dapur adalah pilihan paling mudah untuk mencari pengganjal perut.  

Kalau sekolah formal memang bukan pilihan tetap saja anda harus ‘bersekolah’ tokh? Baca buku dan belajar dari orang tua, saudara, atau berusaha mengenal orang-orang yang bisa mengajari dan membantu anda mencapai tujuan, apakah itu untuk berbisnis ataupun mendalami profesi tertentu.

Saat anda bersekolah, apapun tingkatannya, anda tidak Cuma mempelajari ilmu yang jadi major anda. Anda belajar struktur, anda belajar birokrasi, anda belajar menghadapi dosen-dosen nyentrik, anda belajar menuntaskan sebuah project. Yang lebih penting, anda belajar berkawan, menjalin networking dengan teman, dosen, dan mengenal serta mengambil suri tauladan dari orang-orang hebat yang anda temui selama di kampus. Syukur-syukur juga menemukan calon istri di kampus..hehehe… Kalau itu semua masih anda anggap tidak bermanfaat dalam kehidupan nyata, minimal sekolah atau kuliah, dijamin pasti akan membuka wawasan dan pola berpikir anda.

Bahkan, sekarang ini mungkin sekolah adalah cara termudah, termurah dan paling masuk akan untuk anda bisa keliling dunia. Anda bisa tinggal di luar negeri berkat beasiswa, menjelajahi daerah antah berantah karena dapat dana riset, jadi selebriti karena sering diundang sebagai narasumber ahli dalam talkshow TV dan jadi kaya berkat menerbitkan buku.

Lalu, apa semua sekolah sama saja? Kalau iya, kenapa banyak orang tua rela jumpalitan demi memasukkan anaknya ke sekolah yang ‘katanya’ favorit? Alasannya masih kurang lebih sama…dengan belajar di sekolah terbaik akan meningkatkan peluang anda atau anak anda untuk berada dalam kondisi yang ‘favourable’ seperti saya sebutkan tadi. Sekolah bagus pasti mempunyai fasilitas bagus. Anda akan berada di tengah orang-orang pintar dengan pola berpikir yang luas dan jiwa kompetitif yang akan mendorong anda untuk menjadi orang yang lebih baik. Memangnya Zuckerberg akan bisa sukses kalau tidak pernah mendapat ilham dari teman dan dosen-dosennya di Harvard?!

Sayangnya, tidak semua orang punya akses ke pendidikan yang baik ini..tapi, lagi-lagi sekali lagi…sekolah kan memang bukan satu-satunya cara menuju sukses J

Ada satu ungkapan yang bilang begini :
“Guru yang baik itu tidak sekedar menunjukkan jalan kepada tujuan anda, tapi ia memperlihatkan pilihan-pilihan jalan yang bisa anda tempuh untuk mencapai tujuan anda”

Tentunya setiap orang punya hak berpendapat. Adalah pilihan anda bila tidak mau bersekolah tinggi-tinggi karena ingin seperti Mark Zuckerberg. Tapi ingat, dari setiap satu orang Steve Jobs ada jutaan orang lain yang Steve Jobless..alias pengangguran dan tidak bisa mendapat penghidupan yang layak Cuma karena tidak punya latar belakang pendidikan yang memadai. Tiga orang yang saya sebut namanya dari tadi, jadi terkenal dan jadi sumber cerita yang tidak ada habisnya ya… karena mereka memang manusia istimewa : tidak lulus kuliah, tapi bisa sukses… orang sering lupa menyebutkan ribuan CEO atau milyuner yang bisa mencapai posisi mereka berkat pendidikan mereka yang tinggi. Tidak usah jauh-jauhlah, lihat saja BJ Habibie yang gelarnya bejibun dan sekolahnya banyak banget. Kenapa bukan beliau yang anda jadikan panutan buat anak-anak anda?

Lagipula….tidak mungkin Microsoft bisa sehebat sekarang bila Gates tidak dibantu oleh orang-orang pintar yang dibekali berbagai teori bisnis yang didapatnya juga ya.. dari sekolah.  

Saya sendiri berasal dari keluarga yang menunjung tinggi pentingnya pendidikan. Kami mungkin bukan dan tidak akan pernah jadi orang kaya raya seperti Mark Zuckerberg. Tapi paling tidak, saya dan keluarga pun insyaallah masih bisa hidup berkecukupan berbekal ilmu yang didapat dari sekolah. Pendidikan saya, membawa saya menemui sahabat-sahabat yang luar biasa, memaksa saya membaca buku-buku yang mempesona dan mengenali banyaknya hal menakjubkan di dunia. Saya harap, semua anak di Indonesia bisa mengalami semua keajaiban dari pendidikan itu….

Jadi.. masih berpikir tidak perlu sekolah?



 note: gambar diambil dari ffffound.com, tanpa ijin....

Rabu, 29 Februari 2012

Inspirasi Jeremy Lin

It’s Linsanity!

Ah, orang Amerika itu memang pinter sekali bikin ‘feel good story’..cerita kepahlawanan yang menyentuh, dan menginspirasi. Yang satu ini jadi perhatian saya karena saya mengikuti banget basket NBA. Namanya : Jeremy Lin, point guard dari New York Knicks.

Semua media Amerika berebutan memajang tampang orang Taiwan-Amerika ini di-covernya. Terakhir, dia nongol di sampul majalah TIME, dan menjadi pebasket kedua dalam sejarah, setelah Michael Jordan yang muncul di cover Sport Illustrated dua kali berturut-turut. Lin juga memecahkan rekor Michael Jordan dan Shaquille O’neal sebagai pencetak skor terbanyak dalam sejarah NBA dalam 5 kali penampilan perdananya sebagai starter. Apa hebatnya?

Lin kuliah di Harvard. Meskipun itu sekolah hebat, tapi jelas bukan sekolah yang punya tradisi basket. Bahkan, lulusan Harvard lebih banyak yang jadi presiden Amerika Serikat dibandingkan jadi pebasket profesional. Sudah tiga tahun Lin bermasuk masuk NBA, tapi nyaris tidak dapat kesempatan main. Kalaupun dapat giliran, paling-paling Cuma 5 sampai 10 menit. Garbage time istilahnya. Tapi Lin tidak menyerah, ia tetap rajin latihan sambil menunggu kesempatan. Sampai tibalah saatnya pelatih New York Knicks kehabisan pemain, dan terpaksa menjadikan Lin starter. Hasilnya ya semua sudah tau...

Tidak ada yang menyangka kalo Lin ini ternyata sedemikian hebat. Dalam basket, ada istilah ‘in the zone’ atau ‘on fire’, ada semacam mekanisme dalam tubuh seorang pemain yang membuat dia mendadak jadi hebat dalam satu pertandingan. Semua tembakannya masuk, semua yang dilakukan bener-bener sempurna deh pokoknya. Waktu Jeremy Lin berhasil mempecudangi Kobe Bryant dengan mencetak 38 poin saat New York mengalahkan Lakers, banyak yang bilang itu Cuma kebetulan...kebetulan aja si Lin lagi ‘on fire’..tapi ternyata ga Cuma disatu pertandingan itu aja...sejak ditunjuk jadi starter dadakan, Knicks tidak pernah kalah 7 pertandingan berturut-turut.

Pernah nonton film Any Given Sunday? Itu film tentang american football, inti ceritanya tentang seorang quarter back lapis ketiga, yang baru dapat kesempatan main gara-gara dua quarterback utama timnya cidera. Ternyata eh ternyata, dia ini jago banget! Dan timnya menang terus sejak dia jadi starter. Lin ini ceritanya mirip sekali...

Saya ga akan berpanjang lebar cerita tentang Jeremy Lin lah, semua media termasuk di Indonesia udah keseringan membahas si Jeremy Lin ini. Yang saya permasalahkan, kenapa kita ga bisa menemukan cerita seperti ini di Indonesia? Jeremy Lin ini bisa dibilang sebenernya adalah selebriti instan. Bedanya dengan selebriti instan di Indonesia, cerita tentang kerja keras dan kegigihannya sangat menonjol dan diangkat terus oleh media... hard work and perseverance adalah tema dari kegemilangan Jeremy Lin baik di lapangan maupun di media massa....bukan sekedar sensasi karena melakukan hal aneh di TV atau internet

Lin dikenal sebagai pekerja keras, tidak mudah menyerah, dan selalu menghormati senior-seniornya di NBA. Dengan gajinya yang kecil sebagai pemain ia bahkan tidak punya cukup uang untuk menyewa apartemen sendiri. Selama bermain untuk New York Knicks, ia numpang tidur di sofa kakaknya. Yang membuat dia makin sensasional, ia adalah orang Taiwan, yang notabene sama sekali ga punya sejarah bagus di dunia olahraga profesional, apalagi basket NBA.

Cerita macam begini memang luar biasa, cocok banget buat dibikin film, sayangnya kok saya jarang mendengar kisah begini di Indonesia, setidaknya lewat media massa konvensional kita (TV, koran). Semua lebih sibuk gembar gembor berita politik, korupsi, skandal, kerusuhan sampai perkosaan. Coba dipikir, apa ga tambah bebal otak orang-orang yang nonton? Lama-lama kita semua jadi mati rasa melihat kekacauan disekeliling kita. Media, terutama tV, nyaris ga pernah menyiarkan materi yang layak dijadikan motivasi, inspirasi atapun teladan. Memang ada acara TV bagus seperti Kick Andy, misalnya. Tapi berapa orang sih yang nonton? Kalaupun ada kisah-kisah inspiratif, saya Cuma dapat dari link di twitter atau facebook. Berapa besar frekuensinya sehingga cukup untuk mempengaruhi orang? Bandingkan dengan si Olga yang sukses membuat banyak ABG lelaki ingin jadi bencong biar terkenal dan banyak duit?!

Belakangan, ada dua tokoh yang menurut saya cukup menyegarkan isi media kita ; Dahlan Iskan dan Joko Widodo. Rasanya sejuk setiap membaca berita dari dua orang itu. Alhamdulillah masih ada orang ‘bener’ di negara ini, terlepas dari seperti apa sesungguhnya kepribadian beliau berdua, tapi paling tidak layaklah dijadikan teladan. Sayangnya, sekali lagi, mereka tampil Cuma di media yang ‘berat’, yang pembacanya adalah orang yang mungkin gak perlu lagi diajari atau diberi motivasi. Coba dong, bikin sinetron yang mengajarkan kita untuk kerja keras? Atau bikin gosip tentang artis yang memang perjuangannya luar biasa, ga Cuma terkenal mendadak gara-gara youtube atau jambul?

Seorang teman yang kerja di TV pernah bilang tentang keprihatinannya meliat alay-alay yang tiap pagi menari bak robot di acara TV yang dipandu bencong-bencong itu... mereka memang melihat bahwa cara memperbaiki kehidupan mereka adalah dengan menjadi terkenal, masuk TV dan dapat uang dengan mudah.. even if it means harus jadi bencong...

Coba teman-teman di TV...beneran anak muda seperti itu yang pengen kalian bentuk?!

Coba dong, carikan saya Jeremy Lin versi Indonesia....

Selasa, 28 Februari 2012

Men Are Pigs

Men are Pigs

Yes..it is scientifically proven...
Semua laki-laki memang babi... bukan Cuma karena DNA babi dan manusia itu nyaris sama, tapi juga dari segi kelakuan...

Saya pernah baca artikel di majalah TIME, tentang kenapa banyak laki-laki hebat yang kejeblos gara-gara skandal seksual; Bill Clinton, terus itu si gubernur IMF Strauss-Kahn itu lah... Arnold Schwazzeneger, PM Italia, Tiger Wood..terus yang lokal juga banyak ; Aa Gym, terus Menteri siapa lah itu, Ariel Peterpan...dan masiiiih banyak lagi...

Ternyata eh ternyata... seperti kata Sigmund Freud bahwa manusia itu sebenernya adalah sexual being, pemenuhan hasrat seksual (tidak selalu berarti ‘having sex’) memang menjadi semacam achievement puncak buat laki-laki. Pada saat semua prestasi sudah dicapai, uang udah banyak, jabatan sudah tinggi, apalagi yang dicari? Ya kebanyakan larinya ke semacam sexual conquer, penaklukan seksual..kebanggaan bisa menaklukan perempuan rupanya lebih tinggi daripada kepuasan meraih uang atau jabatan. Makanya, banyak pula yang tidak segan memamerkan selingkuhannya kepada rekan sejawat untuk menunjukan betapa powerful-nya dia. Yang penting, jangan ketauan istri, hehehe.. repotnya, banyak profesi yang memang meng-encourage perilaku seperti ini...saling menutupi kelakuan teman-temannya, apalagi kalo si lelaki ini memang masuk kategori boss atau penguasa. Dorongan untuk mengambil risiko besar pun jadi lumayan kuat...

ini bukan pendapat saya lho yaaa...tapi hasil studi ilmiah, hehe

With power, comes confidence, with confidence come opportunity....

Kata Mark Held, seorang psikolog dari Amerika; “laki-laki itu cenderung bertindak berdasarkan kesempatan, dimana ada kesempatan pasti mereka akan memanfaatkan!”, katanya. Ia juga menambahkan, bahwa kenapa laki-laki sukses itu cenderung selingkuh, karena setelah semua kehebatan mereka itu, ternyata mereka masih butuh sexual entitlement. Perilaku ini akan lebih kental pada mereka yang berasal dari keluarga kaya, keluarga berada...semua kebutuhan mereka sejak kecil selalu dipenuhi, semua yang mereka mau pasti bisa didapat, dan ini akhirnya keterusan sampe mereka besar.

Yang jelas, menurut ahli biologi, semakin sukses seseorang, maka justru kemampuan self restrain-nya memang makin berkurang. Bagi mereka, norma dan aturan sosial tidak berlaku buat mereka karena mereka adalah orang ‘hebat’...

So..jangan heran ya kalo bakal ditemukan lebih banyak lagi skandal ‘pejabat’ di masa datang J

Selasa, 21 Juni 2011

Lelaki Panutan Lelaki


Entah apa signifikansinya buat kita, tapi tampaknya generasi sekarang kehilangan tokoh panutan laki-laki...

Saya ga bicara panutan dalam konteks real person seperti Nabi, tokoh negara, atau mungkin orang tua sendiri yaaa, tapi lebih ke sosok laki-laki ideal di media. Mungkin karena saking bercampur baurnya media sekarang ini, dimana semua orang sangat well-informed sehingga media kehilangan kemampuannya membentuk stereotype... ?

Hehe..maaf ya, saya ini anak yang dibesarkan dengan film-film 80an, mau itu film endonesa ataupun film2 jedar jedurnya Amerika... makaaa... saya lumayan hafal  stereotype laki-laki ideal yang pantas jadi idola atau panutan ketika itu...atau minimal ditiru aksinya lah oleh henerasi muda yg mencari jatidiri..halah...

Misal? Nah..itu Rano Karno atau Roy Marten, kalo maen film pasti jadi anak-anak berandalan yang pemberontak..rebel-rebel gitu lah..pake kaos ketat, kerah diangkat, plus celana cut bray. Saya ga hafal judul-judul filmnya, tapi jagoan cowok di film-film Indonesia masa itu punya karakter2 yang mirip : pemberontak, berani, suka ngelawan orang tua, banyak yang ngeceng, ga disetujuin calon mertua dan...jago berantem... biasanya juga suka balap motor atau naik gunung :p

Nah, yang saya kagumi adalah semua juga biasanya menunjukan sikap sebagai lelaki sejati, yaitu berani tanggung jawab, hormat sama perempuan dan suka nolong orang tua..betul? Ada filmnya Roy Marten (yang saya lupa judulnya!), ceritanya tentang anak orang kaya yang nabrak orang sampe buta..terus, dia kabur dari rumah, ikut kompetisi motocross, berjuang supaya dapet duit buat ngobatin si korban tabraknya itu yang ternyata punya tanggungan keluarga lumayan banyak.. keren kan?!

Film favorit saya yang paling berkesan? Judulnya Ranjau-ranjau Cinta..(halah), ini stereotype laki-laki jagoan banget juga..yang maen Rano Karno..ceritanya tentang senior kampus yang galak, ketua kamtib, hobi naek gunung, pake mobil jip willis, suka ribut sama bapaknya dan...ngeceng mahasiswi baru yang gemulai lemah lembut cenderung lemes...

Kalo patokannya film-film 80an dan awal 90an, film-film yang merajai bioskop pun kayaknya menampilkan lelaki sebagai sosok yang sangar..apalah itu ada rambo, terminator sampe ke van damme dan cangcutnya itu...

Belakangan, stereotype lelaki jagoan terus bergeser, berkatnya adanya Mas Boy.. (in a totally unrelated topic, onky alexander itu, masih ada hubungan oom sama saya..btw..dan pasti andapun ga percaya..hahaha). Catatan si Boy ini menunjukan bahwa anak orang kaya itu ga harus manja, tapi bisa juga rajin solat dan jago berantem serta punya mobil Honda Civic setrika tentunya J but still... gayanya mas Boy ini kayaknya sih jadi semacam benchmark untuk film-film selanjutnya, plus gaya gaul muda-muda ketika itu yang suka jalan-jalan sore naik bo’il...

Terus..terus nih...adalagi stereotype yang OK, ala nikolas saputra..laki2 yang pendiem, ganteng, ga pecicilan dan jago bikin puisi...halah...

Pertanyaannya..sekarang... lelaki macam apa yang jadi stereotype lelaki sejati di media Indonesia? I’m not talking about real person yaaa..fictional lah.. ha? Ha? Ha?

Saya ga pernah menyimak serial sinetron atau FTV secara bener-bener..tapi dari yg diliat sekilas, kok ya jagoan laki2nya itu selalu menye-menye gitu ya? Melempem.... takut sama mertua, mau aja diapa2in sama mamahnya, dan ga punya kerjaan/profesi yang jelas selain ngandelin warisan? Pls, correct me if i’m wrong ya.... (mustinya sih, ada lah skrg ini sinetron atau film yang menggambarkan lelaki bandel tapi bertanggungjawab, Cuma mungkin karena medianya sudah terlalu banyak, efeknya tidak sekuat jaman saya kecil dulu...)

Mungkin pengaruhnya ga signifikan, atau malah mungkin ga ada sama sekali..tapi kok ya menurut saya stereotyping laki-laki ideal ini harusnya perlu lho..biar anak-anak muda itu minimal ada patokan lah harus bergaya dan berkelakuan seperti gimana..ada tambahan referensi selain dari ortu dan lingkungan, gitu lohhh... mungkin karena dunia itu udah jadi melting pot, ga ada lagi stereotyping gaya dan dandanan yang mewakili golongan tertentu..

Kalo di film-film dulu, motor besar itu pasti cuman dipake sama geombolan preman, sekarang malah dipake cuman buat nongkrong di mall... hell, tato yang dulu cuma milik residivis pun sekarang udah dipake semua orang, mulai dari eksmud yang sok sangar sampe ke pemaen bokep...?!

yang pasti sih,mungkin kita butuh lbh bnyk figur laki2 bertanggungjawab di TV kita ya?






Senin, 30 Mei 2011

Thank you for Smoking...


Film ini akan membuka wawasan anda tentang industri rokok dan bagaimana mereka memanfaatkan media untuk mencapai tujuannya....

Thank you for smoking ini sepertinya sih film semi-semi indie, karena tidak dirilis besar-besaran. Ini film pertama sutradara Ivan Reitman (sutradaranya Juno), dan banyak bintang yang lumayan beken, ada Aaron Eckhart, Katie Holmes, sampai Robert Duvall...

Tokoh utama film ini, Nick Naylor, adalah semacam PR/publicist/lobbyist/spin doctor untuk asosiasi perusahaan rokok di Amerika sono... sesuai dengan tugasnya, dia ini sering sekali tampil di TV untuk ‘membela’ industri rokok, atau meng-arrange media untuk menyampaikan pesan-pesan bagus tentang rokok..saking jagonya ini orang, ada satu adegan talkshow yang menampilkan dirinya dengan korban kanker dan pada akhir talkshow, malah si penderita kanker itulah yang dihujat-hujat..he is that good... Tugas Nick ini pula yang membawanya berurusan dengan produser film, TV, iklan dan tentunya wartawan serta berhadapan dengan para tokoh anti rokok, khususnya para senator dan politisi...

Dalam kerjaannya ini juga, Nick sampai diculik oleh kelompok tak dikenal, dicekokin stiker nikotin sampai nyaris tewas, dan akhirnya berkenalan dengan wartawati cantik, pacaran...dan ternyata si wartawati malah menjebaknya. Gara-gara si wartawati itu pula, Nick akhirnya jadi pengangguran...tapi yang penting, film ini sendiri berakhir dengan happy ending buat Nick (dan anaknya).

Film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama, dan mungkin ada sedikit semi dokumenter juga. Meskipun tidak semuanya benar, tapi banyak juga fakta beneran tentang industri rokok di film ini... Misalnya aja, ternyata, industri rokok itu benar-benar punya kekuatan lobi yang sangat kuat di pemerintahan. Mereka juga punya link yang kuat di industri perfilman. Ada juga adegan dia menyogok mantan model iklan Marlboro yang sekarang sudah sekarat karena kanker ada juga bagaimana usaha si Nick melakukan lobi dengan produser film Cuma supaya ada adegan merokok di film barunya.

Khusus hubungan rokok dengan film ini, menurut si Nick (saya lupa dialog persisnya), salah satu kunci keberhasilan industri rokok sejak tahun 50an adalah Product Placement di film...  sejak tahun 50an, hampir semua film itu ada adegan merokoknya. Jadilah kebiasaan ini dianggap sesuatu yang keren. Sayangnya, seiring dengan kesadaran masyarakat dan pemerintah, adegan merokok ini pelan-pelan dilarang (khususnya di TV kali ya?). Makanya, di film ini diceritakan si Nick berusaha keras melobi supaya adegan merokok itu bisa ada lagi dalam film-film...

Cukup banyak adegan dan dialog lucu (namun satir) di film ini. Termasuk saat Nick ketemu dengan koleganya sesama lobbyist dari industri senjata dan alkohol.

Salah satu adegan yang keren, adalah ketika di pengadilan Nick bilang:

“Pembeli rokok itu sudah dikasih tau sering banget tentang bahaya merokok, informasinya ada dimana-mana. Kalo mereka tetap beli rokok, ya itu risiko sendiri. Kalo rokok mau disalahin sebagai penyebab kanker, harusnya industri keju juga dituntut ke pengadilan sebagai penyebab utama kematian akibat tingginya kolesterol....”

Menurut saya sih, selain informatif, ini film juga lucu banget meskipun bergaya satir..ya harus ada pemahaman lebih dalem lah supaya bisa menghargai kelucuan film ini. Buat pengamat (dan penikmat) rokok, ada semacam insight-lah buat kita tentang bagaimana cara mereka mencekoki kita supaya doyan merokok. Buat praktisi komunikasi, ini film bagus sekali...kita bisa belajar banyak bagaimana mengkomunikasikan satu ide, bagaimana melakukan lobi, sampai memutarbalikkan fakta demi keuntungan industri yang kita wakili...


Ps: ini sebenarnya film lama, jadi maaf kalo reviewnya tidak menyeluruh dan ada unsur ‘copy-paste’, maklum, sudah cukup lama nonton film ini..i just feel that it’d be nice to share it...





Senin, 02 Mei 2011

In Need of a Hero..

Kenapa pahlawan itu penting?


Saya ga punya jawaban ilmiahnya, tapi ada satu line yang berkesan dari film Up In The Air.. kira-kira dialognya begini :

“Kamu tau kenapa anak kecil itu mengidolakan atlet?”

“Karena mereka banyak duit dan dikelilingin cewek-cewek cakep?”

“Bukan..tapi karena mereka punya keberanian untuk mengejar mimpinya...”





Jadi..kalo menurut saya, adalah penting seseorang itu punya pahlawan karena bukan hanya karena kisah dan kehebatannya bisa kita tiru sebagai teladan buat kehidupan kita sendiri, tapi yang lebih penting : Pahlawan memberi kita harapan.. betul? Kalo orang punya harapan, pasti dia akan lebih bersemangat mengerjakan segala sesuatu karena dia tau bahwa diujung semua kesusahan yang sedang dihadapi, ada sesuatu (atau seseorang) yang menjanjikan kebahagian walaupun cuman sedikit... begitulah kira-kira teorinya.

Apa syarat seorang pahlawan? Adalah orang kurang kerjaan bernama Joseph Campbell yang sudah baca ratusan kisah kepahlawanan baik fiksi, fantasi maupun kisah nyata dan juga kisah dari kitab-kitab suci, dan kemudian menyusun pola dan kesamaan diantara semua pahlawan itu dalam teori yang dia sebut monomyth..

Menurut Campbell, semua pahlawan itu punya pola perjalanan/kisah hidup yang mirip.. kurang lebihnya dibagi tiga tahapan besar : Departure, Initiation, Return... jadi, pahlawan besar biasanya  berasal dari latar belakang biasa saja, tapi karena suatu kejadian dia dipaksa meninggalkan kehidupan lamanya untuk menempuh satu cobaan atau perjalanan (Departure). Setelah melewati berbagai cobaan, disertai bantuan dari berbagai pihak, dia akan menjelma jadi seorang pahlawan (Initiation),  dan kemudian melakukan perjalanan pulang (Return) untuk menyelamatkan bangsanya.  Begitulah kira-kira...  contoh fiksinya banyak : Lord of The Rings, Star Wars, Harry Potter, bahkan juga mungkin kisah para Nabi dan Rasul...


Saya bukan ahli sejarah, apalagi sejarah Indonesia, tapi berhubung saya ini korban media Amerika, jadi ya sedikit taulah kalau orang Amerika sangat tergila-gila pada yang namanya heroisme. Aksi heroik seseorang biasanya akan digembar-gemborkan sedemikian rupa dan menjadi headline di semua media. Contohnya, adalah para astronot... mereka biasanya dielu-elukan sebagai pahlawan baik sebelum maupun sesudah menjalani misi keluar bumi.  Dan jangan lupa juga pemadam kebakaran, yang popularitasnya mencapai puncaknya ketika terjadi peristiwa WTC 9/11...

Saya pernah baca di sebuah situs (lupa address-nya) bahwa cita-cita favorit anak-anak Amerika adalah : atlet, dokter, astronot, pemadam kebakaran, guru, polisi, dan penyanyi pop... see? Perhatikan disitu ada atlet, astronot, pemadam dan polisi..semuanya pekerjaan yang ada unsur ‘heroik’-nya?

Lebih dari faktor heroisme, menurut saya nih ya... orang ‘sono’ mungkin juga menghargai yang namanya pengorbanan dan kerja keras. Semua tau bahwa untuk jadi atlet (profesional) dan astronot itu susahnya aujubilah... perlu kerja keras, latihan, pendidikan dan usaha yang panjang untuk bisa berhasil. Istilah kerennya mah, harus melewati banyak adversity....

Menurut saya juga, saking tergila-gilanya orang Amerika sama kepahlawanan, pada saat mereka mengalami krisis ‘pahlawan’ mereka pun menciptakan karakter fiksi untuk jadi lambang harapan. Saya ga tau ini ada korelasinya apa engga, tapi kalo dilihat dari polanya, superhero-superhero yang besar, selalu lahir di tengah masa suram. Contoh? Superman dan Batman lahir saat Amerika lagi pulih dari masa resesi ekonomi atau Great Depression. Khusus untuk Superman, si cangcut merah ini bahkan juga pernah diminta Pemerintah dijadikan simbol perlawanan terhadap Ku Klux Klan (KKK) di taun 60an. Ada Kapten Amerika yang populer di masa Perang Dunia 2, dimana dia sering dapat misi rahasia menggagalkan plot-plot jahatnya hitler.

Pertanyaannya, kecuali pahlawan-pahlawan yang poster lukisannya ada dibingkai di ruang kelas waktu kita SD, siapa yang sekarang pantes kita sebut pahlawan di Indonesia? Sayangnya... saya belum menemukan jawabannya..  bahkan untuk pahlawan fiksi pun kita ga bisa menciptakan sosok yang bisa diterima universal oleh  semua generasi...

Saya menaruh harapan besar kepada Tim Nasional tempo hari yang bener-bener bikin hidup jadi lebih bergairah berkat kehebatannya. Anak-anak kecil jadi punya semangat nasionalisme..sayangnya heroisme yang lagi asoy-asoynya  itu keburu dirusak sama Bapak-bapak dogol yang Cuma mikirin kepentingan diri dan partainya doang... (terkutuklah mereka itu!). Para pemadam kebakaran yang udah berkorban nyawa pun seringkali Cuma jadi bahan olok-olok dan lemparan batu lantaran sering terlambat karena macet dan susah cari hidran.. jangan tanya lagi lah para polisi dan tentara yang tiap hari bertaruh nyawa..boro-boro ada penghargaan dari kita selaku masyarakat sama pengorbanan itu kan? Kita lebih mengelu-elukan polisi culun yang joget-joget India ketimbang polisi yang kehilangan tangannya gara-gara mencoba mengamankan bom (although what he did is kinda stupid...still, u gotta respect his bravery)

Sekali lagi, sosok pahlawan itu seharusnya bukan membuat kita hanya terpaku di depan TV menonton aksinya..tapi bisa menginspirasi.. memberi harapan..apalagi buat sebuah bangsa yang sudah babak belur dihajar masalah...

Jadi...siapa kira-kira yang pantes jadi Hero? Silakan cari orang  Indonesia yang punya perjalanan hidup seperti diuraikan monomyth-nya Campbell J



Rabu, 16 Maret 2011

How the Media Promote Violence?

Sudah bosen kayaknya kita semua menyalahkan media massa, terutama TV sebagai biang keladi makin banyaknya agresivitas dan tingkat kekerasan masyarakat... pelaku TV sendiri boleh saja berkelit dari tuduhan itu lantaran menurut mereka apa yang ditonton anak-anak kita seharusnya menjadi tanggung jawab orang tuanya...

Kalo merujuk pada bukunya Dennis McQuail tentang komunikasi massa (maap nih ya, agak akademis sedikit..mau sombong karena sedang kuliah ceritanya....),  media, khususnya TV, punya kekuatan besar dalam meningkatkan agresivitas karena tayangan kekerasan yang berulang-ulang diliat pemirsanya. Akibatnya, pemirsa lama-lama menjadi makin toleran terhadap kekerasan...kekerasan ngga lagi dianggap sebagai sesuatu yang aneh atau mengerikan, tapi bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mungkin dulu kita akan langsung bergidik kalo denger ada orang yang dibunuh di kota kita... sekarang? Kalo yang mati belum 10 orang ya itu mah biasa aja laaaah.... dulu liat orang berdarah dikit aja kita udah mau pingsan, sekarang? Kalo kakinya belom putus sih ga usah diomongin deeeh....

Ngerinya lagi, dari sebuah studi di Amerika sekitar taun 2000an, acara yang paling banyak mengandung unsur kekerasan justru ya acara anak-anak! Sadar atau tidak, anak-anak kita memang sudah dicekoki oleh tayangan kekerasan sejak kecil..jangan dulu lah menunjuk adegan tangan putus karena kekonyolan dalam menangani paket bom yang diulang-ulang terus oleh TV satu itu, kita liat aja dulu film-film kartun –di Indonesia, film kartun identik sebagai tontonan anak-anak, padahal banyak film kartun yang justru sangat tidak boleh diliat anak kecil- juga sudah penuh dengan kekerasan, liat saja Tom & Jerry, tayangan Looney Tunes (bugs bunny dan teman-teman) semua sudah dipenuhi kekerasan.

Yang lebih repot lagi...banyak acara TV justru memang punya efek ‘mempromosikan’ kekerasan. Dalam banyak tayangan, kekerasan memang akhirnya menjadi jalan terbaik dalam memecahkan masalah...saya ngga Cuma bicara soal tayangan demonstrasi atau kerusuhan di TV-TV kita yang emang tidak punya etika itu, tapi ya justru di tayangan yang jadi favorit anak-anak kita. Banyak acara anak yang seolah mengajarkan anak-anak bahwa kekerasan itu adalah sesuatu yang sangat ‘rewarding’...banyak imbalan dan benefit yang didapat kalo kita menggunakan kekerasan sebagai solusi.

Masih ingat film jepang Voltus V? Itu film robot favorit saya... inti ceritanya mengenai persaudaraan dan persahabatan memang sangat bagus, tapi tetap tokh kita lebih bersemangat saat si Voltus menghajar musuh-musuhnya sampe buntung. Contoh lain lagi..Superman? Batman? Ben 10? Semuanya kita (dan anak-anak kita) anggap keren karena kemampuan mereka bikin musuhnya babak belur...termasuk juga Powerpuff Girl yang imut-imut itu...hobinya juga teteup berantem kan?

Pusingnya lagi...semua superhero itu selalu mendapat aplaus, pujian atau ‘reward’ lainnya berkat cara mereka yang mengandalkan kekerasan itu. ‘Dosa’ TV dan film lainnya, adalah bagaimana mereka sering memperlihatkan para ‘villain’ atau penjahat yang bisa hidup nikmat berkat kelihaian mengibuli penegak hukum. Coba liat itu musuh-musuhnya James Bond? Pasti semua kaya, hidup enak, berkuasa, dan punya gundik nan semblehoy... atau penjahat-penjahat di serial-serial polisi? Sering digambarkan bisa hidup enak kan?

Para ahli sih belum bisa membuktikan sepenuhnya kalau meningkatnya kekerasan itu murni ditimbulkan oleh media, terlalu banyak faktor yang juga bisa mempengaruhi...tapiiiii...bahwa media itu punya kemampuan menimbulkan reaksi kolektif terhadap suatu isyu itu tampaknya udah jelas. Liat waktu media mem-blow up soal brengseknya Malaysia? Kita semua mendadak jadi misuh-misuh tiap mendengar nama negara yang warganya masih suka potong rambut model Gondes (gondrong desa –red) itu.... contoh paling ekstrim adalah kasusnya Rodney King di LA awal taun 90an. Ketika itu, ada stasiun TV yang memperlihatkan adegan si Rodney (yang adalah seorang African-American alias negro) lagi digebukin rame-rame oleh polisi bule. Tayangan itu menimbulkan kemarahan warga kulit hitam di sono hingga terjadilah apa yang di sebut LA Riot, salah satu kerusuhan terbesar dalam sejarah Amerika...

Saya ngga tau apa hal seperti ini pernah terjadi di Indonesia, tapi memang buktinya banyak tayangan TV yang bisa menimbulkan kengerian massal...gambar mayat bergelimpangan, darah, kepala pecah..sampai adegan warga menghajar copet habis-habisan sampai tergolek kayak ayam potong pun dengan entengnya nongol di TV...  

Jadi..jangan heran kalo semakin kesini masyarakat itu semakin sangar dan beringas.... ditambah lagi kalo melihat bagaimana para perusuh dan perusak di TV tampaknya tidak pernah harus menanggung konsekuensi apapun atas kebrutalannya..they all can easily get away with it kan? Ditambah dengan penegak hukum yang tidak reliable, makin yakinlah masyarakat bahwa the best way to solve your problems, is through violence.... hajar aja dikit, pasti kemauan kita bakal dipenuhi... ya ngga?


Saya sebenernya bingung, apa tujuan saya bikin tulisan ini...tapi harapannya sih, buat saya pribadi jadi semacam peringatan untuk lebih jeli memperhatikan atau membimbing anak-anak waktu mereka nonton...  dan buat media massa, terutama TV, di Indonesia sudah waktunya melihat jauh ke hati nurani masing-masing..terutama mas-mas yang di lapangan deh...yang pegang kamera dan mikrofon.... how could you do this to your own people? Your own kids? Tega gitu suatu saat liat anak kita ketawa-ketawa liat tangan klepek-klepek penuh darah karena kena bom saking sudah terbiasanya liat adegan begitu?